Hukum Berqurban dalam Islam Ketika Satu Sembelihan untuk Aqiqah dan Qurban

Di setiap tahun, terdapat dua perayaan yang besar bagi umat Islam yang berada di seluruh dunia yakni Hari Raya Idul Fitri serta Idul Qurban. Dua hari raya ini begitu membawa kebahagiaan bagi semua umat. Tetapi, dibalik keberkahan dan kebahagiaan ini kadang muncul sebuah kebimbangan atau pun perdebatan mengenai hukum berqurban dalam islam. Kompleksnya pembahasan hukum Islam mempunyai banyak tahapan, pendapat dan kadang berujung pada perbedaan pendapat.

 

Salah perbedaan pendapat tersebut adalah saat melaksanakan Idul Qurban. Satu pertanyaan yang sering muncul ketika menjelang perayaan Idul Qurban ini ialah apakah dibolehkan satu sembelihan di niatkan untuk qurban dan aqiqah sekaligus? jika demikian, seperti apa kajian hukumnya? Dari berbagai macam sumber, permasalahan yang berkaitan dengan penggabungan antara niat aqiqah dan kurban mempunyai berbagai pendapat. Pendapat utama Idul Qurban tidak boleh digabungkan dengan aqiqah, karena aqiqah serta qurban mempunyai niatan dan maksud tersendiri yang dianggap tetap dapat menggantikan antara satu dengan yang lain. Pada dasarnya aqiqah serta kurban berbeda. aqiqah dilaksanakan serta di niatkan untuk mengucap syukur kelahiran seorang anak ke dunia, untuk qurban memiliki makna mensyukuri nikmat atas seluruh rejeki yang diberikan serta dilaksanakan ketika Idul Qurban.

 

Pendapat yang lainnya, penggabungan qurban serta aqiqah diperbolehkan. Kajian ini dipegang Imam Ahmad, Ulama Hanafiyah, Muhammad bin Sirin dan Qotadah, Al-Hasa Al Bashri. Pendapat yang memperbolehkan qurban dan aqiqah ini salah satunya didasari pada Al Hasan Al Bashri yang mengemukakan bila seorang anak ingin di syukuri dengan menggunakan qurban, qurban tersebut dapat dijadikan satu.

 

Di dalam pendapat yang lain, seorang ulama Hambali juga mengatakan bahwa bila waktu qurban dan aqiqah bertepatan dengan waktu pelaksanaan qurban yakni hari ketujuh kelahiran, serta tepat dengan Idul Qurban, boleh dilakukan aqiqah dan niat qurban, atau pun sebaliknya, niat qurban dengan aqiqah. Pendapat ini juga di amini Syikh Muhammad bin Ibrahim, beliau mengemukakan bila aqiqah dan qurban digabung jadi satu, cukup sembelihan satu rumah.

 

Lantas, seperti apa kesimpulan hukum ini? dari beberapa pandangan tersebut bisa ditarik 3 kesimpulan, antara lain:

 

  1. Pendapat yang menyatakan bila penggabungan qurban dan aqiqah tidak boleh karena memiliki dalil yang kuat dan pada dasarnya meskipun ibadah sejenis, namun keduanya mempunyai maksud berbeda,
  2. Bila bisa melaksanakan keduanya, laksanakan keduanya, ini artinya laksanakan dengan satu kambing, dan laksanakan aqiqah dengan dua kambing untuk laki-laki dan satu kambing untuk anak perempuan,
  3. Bila tidak dapat melaksanakan aqiqah serta qurban secara sekaligus, yang lebih didahulukan ialah ibadah qurban. Karena, ibadah qurban mempunyai waktu yang jauh lebih sempit, bila memperoleh kelapangan rejeki di hari lain, baru melaksanakan aqiqah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *